Rabu, 05 Oktober 2011

NAMAKU, CERMINKU

By : Dyah Ayu Setyani


Semua orang memanggilku dyah. Seringkali nama ini membuatku bingung sendiri. Kenapa? Ya, karena banyak sekali orang yang memiliki nama yang sama denganku. Sempat pula terpikir untuk bisa mengganti namaku. Namun hal ini menjadikanku semakin penasaran, kenapa aku diberi nama dyah yang sudah jelas dimiliki banyak orang. Pernah sekali waktu masih di sekolah menengah, aku mendengar ibu bercerita pada temannya. “ Nama anak saya yang kedua Dyah Ayu Setyani, itu yang ngasih nama eyangnya. “ kata ibuku. “Memang kenapa diberi nama Dyah Ayu Setyani?” tanya teman ibuku seakan penasaran dengan namaku. “Iya, Dyah Ayu itu diambil dari nama mbak penjaga wartel. Waktu itu kan eyangnya dyah mau telepon di warnet terus waktu bayar eyangnya bilang kalau mbak nya itu cantik dan akhirnya bertanya siapa nama mbaknya itu. Nah namanya Dyah Ayu, katanya namanya itu mau dijadiin nama buat cucunya yang mau lahir ini biar cantik kayak mbak nya penjaga wartel.” cerita ibuku dengan semangatnya.

Begitulah awal aku tahu dari mana asal namaku ini. Ya, walaupun tak diketahui apa makna dari namaku, tapi tak apalah. Sering pula aku mengira-ngira sendiri mengenai apa makna namaku, hingga akhirnya aku mengartikannya sebagai wanita cantik yang setia. Kenapa wanita cantik yang setia? Ya kalau untuk kata cantik sepertinya kalian semua sudah bisa menebak darimana asalnya, yaitu dari nama ayu dalam bahasa jawa. Lalu kenapa wanita dan setia? Wanita itu aku ambil dari nama dyah, karena menurutku dyah adalah nama dari seorang wanita bukan laki-laki, benarkan? Kalau makna setia, aku ambil dari setyani. Seperti itulah kira-kira aku memaknai namaku.

Menurutku nama ini sudah tepat untukku. Hal ini dikarenakan nama tersebut sudah menggambarkan bagaimana dan siapa diriku ini. Nama ini pun juga memberikan dampak positif untukku. Jelas saja ada dampaknya karena aku harus menjadi orang yang selalu setia dalam segala hal yang aku lakukan. Menjaga kesetiaan lumayan berat sih, namun jika tidak kujaga bisa-bisa malu aku memiliki nama Dyah Ayu Setyani. Walau pun tidak ada sangkut paut nya sebenarnya, tapi kalau hal ini bisa memberikan hal positif padaku kenapa tidak dilakukan saja.

Dyah Ayu Setyani, menurutku adalah nama yang indah dan baik. Ini persepsiku setelah aku mencoba untuk memahami namaku sendiri. Lagipula, kasihan juga nenekku kalau aku berniat mengganti namaku. Namaku ini adalah harapan dari nenekku dan pastinya kedua orang tuaku. Ya, nenek yang mengharapkan aku menjadi gadis cantik seperti mbak penjaga wartel yang beliau temui, dan entah benar atau salah tapi pasti ada maksud lain ketika orang tuaku memberikan nama setyani sebagai pelengkapnya. Hanya satu pesan untuk semua teman-teman yang membaca ceritaku ini. Jangan pernah berniat mengganti nama kalian, sebelum kalian sendiri bisa memahami nama itu sendiri.

.This is my logo.

Senin, 03 Oktober 2011

Think How to Think - Today

"Mencintai dan dicintai adalah salah satu bagian kehidupan. Namun seringkali pula, mencintai dan dicintai itu menyakiti kita. Yakinkan diri agar tetap tegar dan selalu ingat pada-Nya. Hal itulah yang terbaik, sehingga kita akan selalu merasa kebaikan dari cinta itu sendiri."

Rabu, 28 September 2011

Expectation and response toward others

Dyah Ayu Setyani


Menurut pemahaman yang saya miliki, Humanistic Study adalah salah satu mata kuliah dimana akan membantu siswa untuk memahami tentan sociocultural. Dari hal tersebut saya simpulkan bahwa materi ini akan membahas secara lanjut mengenai adanya perbedaan agama, budaya, kebiasaan masyarakat dan pasti masih ada beberapa hal lagi yang terkait dengan materi tersebut.
Melalui mata kuliah Humanistic Study ini, saya memiliki beberapa harapan yang semoga saja bisa saya capai dengan baik. Pertama, saya  inign menjadi seseorang yang bisa terbuka terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengapa ini menjadi harapan pertama saya? Hal ini karena sampai saat ini saya masih menjadi orang yang tidak bisa terbuka dengan orang lain, baik itu keluarga maupun teman-teman saya. Kedua, saya sangat ingin bisa memahami apa itu perbedaan yang sebenarnya dan bagaimana cara saya bisa menyikapi perbedaan tersebut sehingga saya bisa hidup damai dengan orang lain yang ada di sekitar saya. Ketiga yaitu saya sangat ingin sekali dengan adanya mata kuliah Humanistic Study ini semakin mempererat tali persaudaraan antar orang-orang yang memiliki perbedaan, bukan malah menjadi pemecah persaudaraan. Dan yang terakhir, saya harap melalui Humanistic Study ini, saya atau pun yang lain bisa menjadi orang yang lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, hal ini karena tak semua orang bisa dengan lapang dada menyikapinya.
Ketika seseorang bertanya pada saya, “Bagaimana respon kamu terhadap orang lain?” Maka saya hanya akan menjawab, “ Selama orang tersebut tidak mengganggu saya, maka saya juga tidak akan mengganggu dia.”
Namun jika ada yang bertanya “Bagaimana respon saya terhadap perbedaan?” pasti akan saya jawab, “biasa-biasa saja, toh setiap orang memang berbeda.” Kalau dipikir-pikir kenapa saya menanggapi santai dengan adanya perbedaan, hal ini karena saya lulus dari sekolah menengah atas yang memiliki segala macam perbedaan di dalamnya, terkecuali perbedaan budaya karena semua siswa berasal dari Jawa. Namun ketika saya memasuki STKIP Kebangkitan Nasiona - Sampoerna School of Education (SSE) maka jawaban saya berbanding terbalik, bisa saja mencapai 1000. Perbedaan yang saya terima didalamnya terlalu complicated buat saya walaun pun saya rasa hal tersebut hampir sama dengan apa yang saya alami di sekolah dulu.
Perbedaan yang menurut saya begitu complicated ini berasal dari adanya perbedaan suku, agama, kebiasaan, budaya, sikap, dan masih banyak lagi yang belum saya pahami sampai saat ini. Mungkin perbedaan yang terlalu signifikan inilah yang membuat saya bimbang. Maksud saya dengan bimbang ini yaitu apakah saya benar-benar bisa dengan bijak menerima perbedaan yang sangat amazing buat saya ini. Dan saya rasa karena belum terbiasa dengan jumlah perbedaan yang terlalu banyak inilah maka saya sampai saat ini masih mencari dimana letak kesalahan yang terjadi pada diri saya.